Selasa, 09 Januari 2018

METODE PEMBELAJARAN EVOLUSI, PENDEKATAN FAKTA DAN TEORI
Oleh: Ilisya P.I.

Salah satu materi Biologi yang sampai saat ini masih seringkali menumbuhkan "perang batin" dalam hati seorang pendidik, teruta berlatar agama Islam adalah Evolusi. Kajian materi evolusi yang cukup banyak bertentangan dengan agama tetapi tetap harus dipahami oleh peserta didik secara menyeluruh dan sesuai dengan apa yang terdapat di silabus. oleh karenanya, pendidik harus dapat menyajikan materi evolusi secara seimbang, dimana materi sesuai silabus tersampaikan, tetapi pemahaman peserta didik mengenai evolusi dari segi keislaman pun tersamapaikan.

metode yang dapat diterapkan diantaranya adalah dengan discovery learning. melalui discovery learning, peserta didik diharapkan dapat merekontruksi sendiri pengetahuannya, dapat mengkaji materi evolusi secara lebih mendalam. peserta didik dapat menemukan sendiri teori-teori evolusi yang kemudian dapat dikaji melalui dua aspek, yaitu secara teori dan pandangan para ilmuan saat ini serta pandangan alQur'an mengenai teori evolusi. dengan kajian yang cukup luas, peserta didik dapat menganalis dan memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai teori evolusi.

peserta didik di awal pembelajaran disajikan beberapa video mengenai materi evolusi, video yang mengkaji secara scientific kekinian mengenai teori evolusi, video mengenai teori evolusi sesuai silabus, video mengenai teori evolusi berdasar kajian agama. peserta didik diminta untuk mengkaji ketiga nya dihubungkan dengan materi evolusi, adakah yang bersesuaian ataukah tidak bersesuaian dengan teori evolusi yang dipelajari di biologi.

peserta didik diminta untuk memberikan analisis  atau pemikirannya secara kelompok dan mempresentasikan di depan kelas. dengan peserta didik merekontruksi ilmu pengetahuannya sendiri mengenai evolusi, diharapkan peserta didik dapat memiliki pemahaman lebih mendalam dan menyeluruh menganai teori evolusi, baik dari segi keilmuan materi evolusi sesuai dengan yang  harus dipahami dalam silabus dan juga dari segi keislaman.

Rabu, 05 April 2017

Penerapan Makna Pendidikan Islam dalam Proses Pembelajaran

Oleh: Ilisya P. Indrasari

Pendidikan dalam Islam memiliki beberapa istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh. Masing-masing istilah memiliki keunikan makna tersendiri dan memberikan warna tersendiri dalam pendidikan.  
Pendidikan dalam istilah tarbiyah memiliki beberapa kata kunci. Pertama, mengembangkan (‘insya), yaitu pendidikan dipandang menumbuhkan, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi peserta didik. Kedua, sesuatu (al-syay’), yaitu potensi dasar manusia yang dikembangkan sehingga berbuah pada al-‘amal (prilaku). Ketiga, tahap demi tahap (halan fa halan), yaitu proses aktualisasi potensi (satu dan dua) dilakukan secara bertahap agar peserta didik tidak merasa tertekan atau dijajah oleh pendidiknya. Keempat, sampai pada batas kesempurnaan (ila hadd al-tamam), yaitu diperlukan waktu yang lama sehingga seluruh potensinya benar-benar teraktual secara maksimal. Kelima, sebatas pada kesanggupannya (bi hasbi isti’dadihi), yaitu pendidik harus mengetahui tingkat peserta didik, baik dari usia, kondisi fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Asumsinya, bahwa peserta didik lahir dengan potensi unik yan berbeda-beda. Semua potensi masih bersifat potensial untuk diaktualisasikan melalui usaha pendidikan. Tugas pendidikan hanya menumbuhkan, mengembangkan, mengaktualisasikan berbagai potensi peserta didik. Tidak perlu mencetak peserta didik menjadi ini dan itu, cukup menumbuhkan daya, cita, rasa, dan karsanya, tanpa mengubah potensi dasarnya(1).
Pendidikan dalam istilah ta’lim lebih mengarah pada aspek kognitif. Muhammad Rasyid Ridha(2) mengartikan ta’lim dengan “proses transimisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”, proses transmisi ini dilakukan secara bertahap. Hal ini disarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 31. Selain itu menurut Muhaimin(3), ta’lim mencakup teoritis dan praktis, serta mengajarkan dengan al-hikmah (bijaksana). Pengertian ini didasarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 151.
Pendidikan dalam istilah ta’dib, diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Artinya orang yang berpendidikan adalah orang yang berperadapan, sebaliknya, peradaban yang berkualitas dapat diperoleh melalui pendidikan. Ta’dib terbagi menjadi empat macam(4): (1) ta’dib adab al haqq, tata krama spiritual dalam kebenaran. (2) ta’dib adab al hikmah, tata krama spiritual dalam pengabdian seorang hamba kepada Sang Khaliq. (3) ta’dib adab al syar’iyah, pendidikan tata krama spiritual dalam syari’ah. (4) ta’dib adab al shubhah, pendidikan tata ktama spiritual dalam persahabatan.
Pendidikan dalam istilah riyadhah, diartikan sebagai pengajaran dan pelatihan(5). Riyadhah dibagi menjadi dua macam, yaitu riyadhah al-jism dan riyadhah al-nafs. Riyadhah al-jism, pendidikan olahraga yang bertujuan untuk kesehatan jasmani manusia. Riyadhah al-nafs, pendidikan olah batin (jiwa) yang dilakukan melalui olah hati dan olah fikir yang bertujuan memperoleh kesadaran dan kualitas rohani.
Sebagai seorang pendidik muslim, keempat makna pendidikan islam ini harus kita pahami secara utuh dan diaktualisasikan dalam proses pembelajaran. Tidak hanya oleh pendidik yang mengajarkan mata pelajaran agama, tetapi juga mata pelajaran lainnya seperti rumpun bahasa, IPA, dan IPS. Pendidik muslim harus menyadari bahwa pada dasarnya semua ilmu adalah ilmu Allah, sehingga seluruh pendidik muslim pada hakikatnya adalah pendidik agama (guru agama), yang mengajarkan islam melalui biologi, ekonomi, bahasa indonesia, dan sebagainya.
Tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh dapat dijadikan acuan bagi pendidik dalam menyusun rencana proses pembelajaran yang tentunya akan diaplikasikan dalam proses pembelajaran di kelas. Tarbiyah, bersifat secara keseluruhan dalam proses pendidikan, dimana peserta didik tidak untuk dipaksakan dalam pengembangan potensinya. Jika peserta didik lebih berpotensi dalam bidang seni, teater dan musik misalnya, maka tidak bijak bagi pendidik untuk memaksakan peserta didik juga meraih nilai yang tinggi di fisika dan matematika. Biarkan peserta didik mengembangkan potensinya, dengan tetap memberikan pemahaman mengenai fisika dan matematika, karena ilmu pasti akan berguna, minimal dalam mengembangkan pola pikirnya. Selain itu tarbiyah menekankan kebertahapan dalam pendidikan. Jika dilihat dari materi pelajaran yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran, harus bertahap dan bekesinambungan, dilihat dari tingkat usia.
Ta’lim adalah hal yang pada umumnya dilakukan dalam proses pembelajaran dikelas. Lebih ditekankan kepada ranah kognitif peserta didik. Menjadikan peserta didik dari tidak tau menjadi tau, dari tidak paham menjadi paham. Proses ini pun dilakukan secara bertahap, sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik.
Ta’dib, lebih kepada pengembangan moral, akhlak, adab, budi pekerti. Pendidikan moral dan budi pekerti menjadi fokus pendidikan saat ini, karena terbukti bahwa moral dan budi pekerti yang luhur yang akan menjadikan sebuah bangsa maju dan mandiri, tidak hanya dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika moral masyarakat hancur, maka bangsa pun akan hancur. Dalam Islam, pendidikan moral dan budi pekerti sudah lebih dahulu ditekankan. Akhlaqul karimah merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan Islam, dengan menjadikan Rosulullah SAW sebagai uswah hasanah (teladan yang baik). Olehkarenanya, dalam setiap proses pembelajaran, hendaknya seorang pendidik memiliki target capaian akhlak yang ingin ditanamkan kepada peserta didik, sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Sebagai contoh dalam biologi, materi sistem pencernaan, diharapkan peserta didik dapat mencontoh akhlak Rosulullah terhadap makanan, diantaranya tidak mencela makanan, selalu berdo’a sebelum dan sesudah makan, dan sebagainya. Pada pelajaran matematika, ketika siswa mempelajari deret ukur, maka siswa juga ditekankan tentang sabar dalam antrian, karena dalam deret ukur, nomor lima  tidak bisa mendahului nomor satu.
Riyadhoh, erat kaitannya dengan capaian akhlak pada mata pelajaran tersebut. Seperti dicontohkan sebelumnya, dalam mata pelajaran Biologi sistem pencernaan, riyadhoh yang dilakukan adalah mengikuti pola  makan Rosulullah saw. Sehingga tentunya harus diketahui bagaimana sunnah Rosulullah dalam cara makan dan pola makan. Peserta didik diminta melakukannya selama 40 hari, sebagai riyadhoh al-jism. Berdasarkan teori psikologi, sesuatu yang dilakukan selama 40 hari berturut-turut tanpa henti, maka akan menjadi kebiasaan (habbit).
Penerapan  makna pendidikan Islam yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh dalam proses pembelajaran, diharapkan akan menghasilkan output siswa yang memiliki kemampuan secara menyeluruh, dimana potensi akal, jasmani, dan ruhiyahnya dapat teroptimalkan. Wawlahu’alam bisawab.

Daftar Pustaka
(1)    Abdul Mujib, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008).
(2)    Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Manar, 1373 H).
(3)    Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rajawali Press, 2005).
(4)    Bandingkan: Amatullah Amstrong, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia asawuf, terj. MS Nasrullah, judul asli: Sufi Terminology (al-Qamus al-Sufi): The Mystical Language of Islam, (Bandung: Mizan, 1998).

(5)    Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: YP3A, 1973).

Kamis, 02 Maret 2017

konsep integrasi materi keagaamn dalam mata pelajaran rumpun IPA

Konsep Integrasi Materi Keagamaan dalam Mata Pelajaran Rumpun IPA

Pendidikan Islam melingkupi objek bahasan ayatul qauliyah dan ayatul kauniyah. Implikasinya, pendidikan Islam tidak mengenal dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Islam sebagai manhajul hayah, memandang bahwa seluruh isi kehidupan ini patut dipelajari dan difahami yang kelak akan menuntun kita mengamalkannya untuk mencapai tujuan hakiki sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Dalam perspektif pendidikan Islam, yang menyiapkan manusia agar dapat melakukan peranannya, baik sebagai khalifah ataupun sebagai ‘abd, maka yang wajib dituntut oleh manusia adalah ilmu yang sifatnya terpadu antara ilmu umum dengan ilmu agama.Pada tataran aplikasinya, pendidikan yang diterapkan baik di sekolah umum maupun berbasis Islam, masih bersifat dikotomi, yaitu terpisah antara materi keagamaan dengan materi umum. Kalaupun ada, sebatas pada pemberian mata pelajaran umum dengan mata pelajaran agama secara bersamaan, belum sampai kepada integrasi dalam materi pelajaran.


Terdapat empat bentuk kurikulum (Abdullah Idi; 2011), yaitu “separated subject curriculum, correlated curriculum, broad fields curriculum, dan integrated curriculum”. Bentuk kurikulum yang berkaitan dengan integrasi proses pembelajaran adalah correlated curriculum dan integrated curriculum. Correlated model adalah sistem pengorganisasian isi materi pelajaran dimana satu mata pelajaran dikaitkan dengan materi yang ada pada mata pelajaran lainnya. Namun kajian utama tetap berpijak pada satu mata pelajaran utama. Pengkaitan dilakukan sepanjang dipandang perlu. Batas-batas mata pelajaran yang ada dipertahankan (Deni Kurniawan; 2011). Sedangkan, Nasution (1987) berpendapat bahwa model Correlated Curriculum, “yaitu model kurikulum yang menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang laiannya dengan cara insidental (kebetulan), tematik”.
Integrasi proses pembelajaran materi keagamaan atau nilai-nilai ke-Islam-an dengan mata pelajaran rumpun IPA dilakukan dengan model Correlated curriculum, Correlated Model atau model keterhubungan. Correlated model adalah menghubungkan isi materi pelajaran Fisika, Kimia, dan Biologi, dengan materi kegamaan (Al-Qur’an, Hadits, akidah akhlak, atau fiqh) dengan tetap berpijak pada satu mata pelajaran kajian utama yaitu Fisika, Kimia, atau Biologi, yang dapat dilakukan secara insidental ataupun sistematik. 

file:///C:/Users/KOMPTU/Downloads/779-2048-1-PB.pdf