Senin, 08 Februari 2021

MEMAKNAI FILSAFAT ILMU DALAM MENDIDIK


Filsafat ilmu memiliki dua pengertian: 1) dari segi kebahasaan adalah mencintai kebenaran. orang yang memahami filsafat ilmu, maka akan berusaha memperoleh kebenaran dan memilikinya. 2) dari segi filsafat, adalah pengetahuan dari segala yang ada. 

Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya 4 persoalan: 1) Apa yang dapat diketahui, dijawab dengan metafisika. 2) Apa yang boleh dikerjakan, dijawab oleh etika. 3) Apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh antropologi. 4) dan harapan ada pada agama. 

Koridor filsafat adalah 1) Logis dan masuk akal. 2) Sistematis dan terukur. sistematika dalam mengkaji sebuah problem permasalahan adalah, pertama menemukan permasalahan; Kedua, mengkaji keilmuannya; Ketiga, mengolah problem dengan keilmuan yang diperoleh; ketiga, menjelaskan implementasi dari temuan yang didapat; keempat, rekomendasi dan kesimpulan. 3) Radikal, mendalam sampai akar. 4) Universal, generalisir. 

Ketika seorang pendidik memahami filsafat ilmu, maka dia akan mencari kebenaran dari ilmu yang akan diajarkannya, dan menyampaikan kebenaran tersebut. Selain itu, pendidik tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menyampaikan, apa alasan harus dipelajarinya ilmu tersebut. Dengan mengetahui dan menyadari pentingnya alasan dibaliknya, maka diharapkan peserta didik akan benar-benar berusaha memahami, dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh.

Pendidik harus dapat menyampaikan, apa pentingnya mempelajari materi yang akan disampaikan. Apa kegunaan mempelajari materi tersebut, terutama apakah bisa bermanfaat dalam kehidupannya. Contoh, materi sistem ekskresi, peserta didik harus mengetahui fungsi dari organ-organ ekskresi, pentingnya menjada organ-organ tersebut, juga mengetahui bagaimana cara menjaga dan memelihara organ-organ tersebut agar dapat berfungsi dengan baik. Diharapkan jika peserta didik mengetahui pentingnya sistem ekskresi, maka mereka akan semangat mempelajarinya dan diimplementasikan dengan menjaga/memelihara organ eksresi yang sudah dimilikinya. Terlebih, menjaga organ yang dimiliki, merupakan salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan organ-organ pada tubuh kita dengan cuma-cuma. 

Jika pendidik sudah dapat memahami filsafat ilmu dan menerapkannya dalam pembelajaran, maka pastilah akan lahir manusia-manusia yang tidak sekedar pintar, tetapi cakap dalam menggunakan ilmu, dan pandai bersyukur. Manusia-manusia inilah yang dibutuhkan untuk membangun peradaban. 

Wallahua'lam bishawab. 

 

 

 

 

Selasa, 02 Februari 2021

Penerapan Karakter Islami pada Proses Pembelajaran Sistem Pernapasan

Pembelarajan daring akibat pandemi COVID 19, tidak membuat kita sebagai guru melupakan hakikat mengajar lho, yaitu mendidik dan menjadikan peserta didik lebih memahami ajaran agamanya melalui materi pelajaran yang kita sampaikan.

Dalam materi sistem pernapasan ini, Al-Qur;an atau hadits yang berhubungan dengan materi adalah QS. Al-Qiyamah ayat 26: “…Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan”. Dalam ayat ini disebutkan bahwa kerongkongan adalah salah satu bagian dari organ pernapasan. 

Penerapan karakter islami diantaranya:

a.      Membiasakan menyempurnakan gerakan sholat dan tuma’ninah akan melapangkan sistem pernapasan.

b.      Membiasakan istinsyaq saat berwudlu dapat membersihkan lubang hidung sehingga dapat terhindar dari penyakit2 yang membehayakan sistem pernapasan

c.       Memeliharan sistem pernapasan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

d.      Membiasakan tilawah al-Qur’an dengan tartil akan memanjangkan nafas dan melapangkan sistem pernapasan. 

qt memahamkan kepada peserta didik bahwa melapangkan sistem pernapasan itu sangat diperlukan, karna akan memperlancar jalannya oksigen ke seluruh sel tubuh kita. beberapa hal yang dapat melapangkan pernapasan, selain membiasakan berolahraga, juga membiasakan menyempurnakan gerakan sholat dan tuma'ninah, serta dengan membiasakan tilawah al-Qur'an secara tartil. 

lewat pemahaman ini, diharapkan peserta akan lebih terpacu untuk menyempurnakan gerakan sholatnya dan membiasakan tilawah al-Qur'an. 

dengan beristinsyaq minimal 5 kali sehari, juga akan membersihkan saluran pernapasan kita. beristinsyaq menjadi lebih penting saat ini, disaat pandemi COVID 19 yang menyerang sistem pernapasan melalui saluran pernapasan. dengan beristinsyaq, maka virus/bakteri, dan lainnya akan dikelaurkan dan dimatikan, sehingga meraka tidak akan masuk ke dalam paru-paru. 

di akhir, kita memberikan sebuah video yang berjudul "keajaiban di Balik Nafas" untuk disimak dan dirangkum hal-hal yang penting dari video tersebut. Dari video ini, peserta didik akan mengetahui bahwa Allah SWT menciptakan sistem pernapasan dengan amat sangat sempurna, sangat detail dan terperinci, sampai pada hal-hal yang sama sekali belum pernah kita menyadarinya. Oleh karena itu, begitu arogan nya kita sebagai hamba Allah, jika sampai memiliki sifat sombong atau melupakan salah satu nikmat Allah ini. 

Bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat yang Allah berikan berupa sistem pernapasan, yaitu dengan menjaga dan memeliharanya dengan sangat baik, tidak merusaknya dengan merokok, ataupun lainnya. 

selesai materi pembelajaran, akan diberikan evaluasi dengan menggunakan live worksheet, dimana materi yang dievaluasikan juga mengandung materi-materi integrasi keislaman. 

Dalam proses pembelajaran ini, media yang digunakan adalah Whats up, Google classroom, video pembelajaran, dan liveworksheet. 

Ingatlah selalu bahwa kita sebagai guru muslim mempunyai tanggung jawab besar, selain menjadikan peserta didik dapat memahami dan menerapkan materi yang kita ajarkan dalam kehidupan sehari-hari, juga menanamkan kesadaran akan ke-Maha Besar-an Allah SWT.

Wallalahu a'lam bishawab...



   

Selasa, 23 April 2019

Guru dan Pendidikan Islam


Guru dan Pendidikan Islam


Pendidikan merupakan komponen pembangunan satu-satunya yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.  Sebaik apapun pembangunan structural dan infrastructural yang dilakukan oleh pemerintah, tetapi jika pembangunan di bidang pendidikan tidak terperhatikan, maka bagaikan membangun bangunan yang tinggi, tetapi keropos ditengah, sehingga pasti lama-kelamaan akan hancur dengan sendirinya.
Begitu pentingnya pendidikan sehingga dapat menentukan maju tidaknya peradaban suatu bangsa. Oleh karena itu, upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan oleh suatu bangsa yang menyadarinya, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia selalu melakukan analisa terhadap kebutuhan dan perkembangan masyarakat yang merupakan hasil pendidikan sebelumnya. Masyarakat usia produktif saat ini merupakan hasil pendidikan sebelumnya. Perbaikan dan pergantian kurikulum acapkali dilakukan demi tercapainya kualitas pendidikan yang lebih baik yang secara linearitas akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yaitu masyarakat itu sendiri, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh tujuan umum pendidikan nasional.
Hal yang perlu diperhatikan adalah, sebaik apapun kurikulum yang disusun oleh pemerintah, tetapi pelaksana dilapangan sebagai pengeksekusi kurikulum lah yang akan menentukan tercapai atau tidaknya tujuan kurikulum tersebut. Pelaksana dilapangan adalah sekolah. Stake holder sekolah adalah kepala sekolah, guru, murid, dan tata usaha. Yang paling berperan dalam penerapan kurikulum adalah kepala sekolah dan guru. Guru sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum. Tercapai atau tidaknya tujuan kurikulum, akan sangat bergantung kepada guru.
Oleh karena itu, sebagus apapun kurikulum, jika guru sebagai ujung tombak belum terasah dan terlatih untuk melaksanakan kurikulum tersebut, maka tujuan pendidikan secara umum dan kurikulum secara khusus tidak akan tercapai. Guru sebagai actor sekaligus produser dalam pelaksanaan kurikulum.

Profesionalitas Guru
Guru sebenarnya sudah menjadi profesi professional, laiknya dokter dan pengacara. Bahkan tuntutan guru lebih besar. Baik tidak nya generasi bangsa sangat ditentukan oleh profesionalitas guru. Guru professional adalah guru yang meyadari akan tugas dan fungsinya serta diiringi dengan kepemilikan terhadap kompetensi tertentu.
Standar kompetensi guru berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indoneisa Nomor 74 tahun 2008 tentang guru, yaitu terdapat empat kompetensi utama: Kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi social, dan kompetensi professional.
Kompetensi Pedagogik merupakan kemampuan mengelola anak didik, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, pengelolaan kelas, dan perkembangan potensi peserta didik.
Kompetensi Kepribadian, yaitu memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, jujur, berkakhlak mulia, dan menjadi teladan bagi peserta didik. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, social, dan kebudayaan nasional Indonesia.
Kompetensi Sosial, adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan anak didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Bertindak objektif, tidak diskriminatif baik dalam hal jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status social ekonomi.
Kompetensi Profesional, dimana guru memiliki kemampuan penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Menguasai kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

Guru dalam Pendidikan Islam
Berdasarkan perspektif pendidikan Islam, pendidik akan berhasil menjalankan tugasnya jika mempunyai kompetensi personal-religius, social religius, dan professional religius. Religius menunjukkan adanya komitmen pendidik terhadap ajaran Islam, sehingga setiap masalah pendidikan akan dihadapai, dipertimbangkan, dipecahkan, serta ditempatkan dalam persfektif Islam.
Tugas pendidik yang utama menurut al-Ghazali, adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa hati manusia untuk taqorrub Ilallah. Jika pendidik belum mampu membiasakan diri dalam peribadatan kepada peserta didiknya, maka ia mengalami kegagalan dalam tugasnya, sekalipun peserta didik mengalami prestasi akademik yang luar biasa. Apapun mata pelajaran yang diampu oleh pendidik, walaupun bukan guru agama, tetap tugas tersebut melekat padanya. Dalam pendidikan Islam, semua guru adalah guru agama. Guru matematika, guru fisika, guru seni, guru bahasa, seluruhnya adalah guru agama. Mereka memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membuat peserta didik dekat dengan Allah SWT melalui mata pelajaran yang diampu.
Di era millennium saat ini, pendidik bukan lagi hanya bertugas sebagai pengajar, yang mendoktrin peserta didik untuk mengusai seperangkat ilmu pengetahuan dan skill (keterampilan). Pendidik hanya bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses pembelajaran. Peserta didik diberikan keleluasaan untuk dapat mengembangkan potensi nya masing-masing. Pendidik bukan menentukan potensi peserta didik, tetapi membimbing peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Jika dihubungkan dengan pendidikan Islam, maka pengembangan potensi peserta didik harus selalu dibingkai dengan akhlak Islami, kebiasaan islami, dan dipagari oleh aturan-aturan atau hukum Islam.

Selasa, 09 Januari 2018

MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN TEORI EVOLUSI UNTUK MEMBANGUN KEMAMPUAN BERNALAR KRITIS PESERTA DIDIK

MODEL DISCOVERY LEARNING DALAM PEMBELAJARAN TEORI EVOLUSI UNTUK MEMBANGUN KEMAMPUAN BERNALAR KRITIS PESERTA DIDIK
Oleh: Ilisya P.I.

Salah satu materi Biologi yang sampai saat ini masih seringkali menumbuhkan "perang batin" dalam hati seorang pendidik, terutama berlatar agama Islam adalah Evolusi. Kajian materi evolusi yang cukup banyak bertentangan dengan agama tetapi tetap harus dipahami oleh peserta didik secara menyeluruh dan sesuai dengan apa yang terdapat di silabus. Oleh karenanya, pendidik harus dapat menyajikan materi evolusi secara seimbang, dimana materi sesuai silabus tersampaikan, tetapi pemahaman peserta didik mengenai evolusi dari segi keislaman pun tersampaikan.

Model pembelajaran yang dapat diterapkan diantaranya adalah dengan discovery learning. Melalui discovery learning, peserta didik diharapkan dapat merekontruksi sendiri pengetahuannya, dapat mengkaji materi evolusi secara lebih mendalam. peserta didik dapat menemukan sendiri teori-teori evolusi yang kemudian dapat dikaji melalui dua aspek, yaitu secara teori dan pandangan para ilmuan saat ini serta pandangan al-Qur'an mengenai teori evolusi. Melalui kajian yang cukup luas, peserta didik dapat menganalis dan memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai teori evolusi.

Peserta didik di awal pembelajaran disajikan beberapa video mengenai materi evolusi, video yang mengkaji secara scientific kekinian mengenai teori evolusi, video mengenai teori evolusi sesuai silabus, video mengenai teori evolusi berdasar kajian agama. peserta didik diminta untuk mengkaji ketiga nya dihubungkan dengan materi evolusi, adakah yang bersesuaian ataukah tidak bersesuaian dengan teori evolusi yang dipelajari di biologi.

Peserta didik diminta untuk memberikan analisis  atau pemikirannya secara kelompok dan mempresentasikan di depan kelas. Diharapkan dengan peserta didik merekontruksi ilmu pengetahuannya sendiri mengenai evolusi, peserta didik dapat memiliki pemahaman lebih mendalam dan menyeluruh mengenai teori evolusi, baik dari segi keilmuan materi evolusi sesuai dengan yang  harus dipahami dalam silabus dan juga dari segi keislaman.

Rabu, 05 April 2017

Penerapan Makna Pendidikan Islam dalam Proses Pembelajaran

Oleh: Ilisya P. Indrasari

Pendidikan dalam Islam memiliki beberapa istilah, yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh. Masing-masing istilah memiliki keunikan makna tersendiri dan memberikan warna tersendiri dalam pendidikan.  
Pendidikan dalam istilah tarbiyah memiliki beberapa kata kunci. Pertama, mengembangkan (‘insya), yaitu pendidikan dipandang menumbuhkan, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi peserta didik. Kedua, sesuatu (al-syay’), yaitu potensi dasar manusia yang dikembangkan sehingga berbuah pada al-‘amal (prilaku). Ketiga, tahap demi tahap (halan fa halan), yaitu proses aktualisasi potensi (satu dan dua) dilakukan secara bertahap agar peserta didik tidak merasa tertekan atau dijajah oleh pendidiknya. Keempat, sampai pada batas kesempurnaan (ila hadd al-tamam), yaitu diperlukan waktu yang lama sehingga seluruh potensinya benar-benar teraktual secara maksimal. Kelima, sebatas pada kesanggupannya (bi hasbi isti’dadihi), yaitu pendidik harus mengetahui tingkat peserta didik, baik dari usia, kondisi fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Asumsinya, bahwa peserta didik lahir dengan potensi unik yan berbeda-beda. Semua potensi masih bersifat potensial untuk diaktualisasikan melalui usaha pendidikan. Tugas pendidikan hanya menumbuhkan, mengembangkan, mengaktualisasikan berbagai potensi peserta didik. Tidak perlu mencetak peserta didik menjadi ini dan itu, cukup menumbuhkan daya, cita, rasa, dan karsanya, tanpa mengubah potensi dasarnya(1).
Pendidikan dalam istilah ta’lim lebih mengarah pada aspek kognitif. Muhammad Rasyid Ridha(2) mengartikan ta’lim dengan “proses transimisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu”, proses transmisi ini dilakukan secara bertahap. Hal ini disarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 31. Selain itu menurut Muhaimin(3), ta’lim mencakup teoritis dan praktis, serta mengajarkan dengan al-hikmah (bijaksana). Pengertian ini didasarkan pada QS. Al-Baqarah ayat 151.
Pendidikan dalam istilah ta’dib, diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika. Artinya orang yang berpendidikan adalah orang yang berperadapan, sebaliknya, peradaban yang berkualitas dapat diperoleh melalui pendidikan. Ta’dib terbagi menjadi empat macam(4): (1) ta’dib adab al haqq, tata krama spiritual dalam kebenaran. (2) ta’dib adab al hikmah, tata krama spiritual dalam pengabdian seorang hamba kepada Sang Khaliq. (3) ta’dib adab al syar’iyah, pendidikan tata krama spiritual dalam syari’ah. (4) ta’dib adab al shubhah, pendidikan tata ktama spiritual dalam persahabatan.
Pendidikan dalam istilah riyadhah, diartikan sebagai pengajaran dan pelatihan(5). Riyadhah dibagi menjadi dua macam, yaitu riyadhah al-jism dan riyadhah al-nafs. Riyadhah al-jism, pendidikan olahraga yang bertujuan untuk kesehatan jasmani manusia. Riyadhah al-nafs, pendidikan olah batin (jiwa) yang dilakukan melalui olah hati dan olah fikir yang bertujuan memperoleh kesadaran dan kualitas rohani.
Sebagai seorang pendidik muslim, keempat makna pendidikan islam ini harus kita pahami secara utuh dan diaktualisasikan dalam proses pembelajaran. Tidak hanya oleh pendidik yang mengajarkan mata pelajaran agama, tetapi juga mata pelajaran lainnya seperti rumpun bahasa, IPA, dan IPS. Pendidik muslim harus menyadari bahwa pada dasarnya semua ilmu adalah ilmu Allah, sehingga seluruh pendidik muslim pada hakikatnya adalah pendidik agama (guru agama), yang mengajarkan islam melalui biologi, ekonomi, bahasa indonesia, dan sebagainya.
Tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh dapat dijadikan acuan bagi pendidik dalam menyusun rencana proses pembelajaran yang tentunya akan diaplikasikan dalam proses pembelajaran di kelas. Tarbiyah, bersifat secara keseluruhan dalam proses pendidikan, dimana peserta didik tidak untuk dipaksakan dalam pengembangan potensinya. Jika peserta didik lebih berpotensi dalam bidang seni, teater dan musik misalnya, maka tidak bijak bagi pendidik untuk memaksakan peserta didik juga meraih nilai yang tinggi di fisika dan matematika. Biarkan peserta didik mengembangkan potensinya, dengan tetap memberikan pemahaman mengenai fisika dan matematika, karena ilmu pasti akan berguna, minimal dalam mengembangkan pola pikirnya. Selain itu tarbiyah menekankan kebertahapan dalam pendidikan. Jika dilihat dari materi pelajaran yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran, harus bertahap dan bekesinambungan, dilihat dari tingkat usia.
Ta’lim adalah hal yang pada umumnya dilakukan dalam proses pembelajaran dikelas. Lebih ditekankan kepada ranah kognitif peserta didik. Menjadikan peserta didik dari tidak tau menjadi tau, dari tidak paham menjadi paham. Proses ini pun dilakukan secara bertahap, sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik.
Ta’dib, lebih kepada pengembangan moral, akhlak, adab, budi pekerti. Pendidikan moral dan budi pekerti menjadi fokus pendidikan saat ini, karena terbukti bahwa moral dan budi pekerti yang luhur yang akan menjadikan sebuah bangsa maju dan mandiri, tidak hanya dilihat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketika moral masyarakat hancur, maka bangsa pun akan hancur. Dalam Islam, pendidikan moral dan budi pekerti sudah lebih dahulu ditekankan. Akhlaqul karimah merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan Islam, dengan menjadikan Rosulullah SAW sebagai uswah hasanah (teladan yang baik). Olehkarenanya, dalam setiap proses pembelajaran, hendaknya seorang pendidik memiliki target capaian akhlak yang ingin ditanamkan kepada peserta didik, sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Sebagai contoh dalam biologi, materi sistem pencernaan, diharapkan peserta didik dapat mencontoh akhlak Rosulullah terhadap makanan, diantaranya tidak mencela makanan, selalu berdo’a sebelum dan sesudah makan, dan sebagainya. Pada pelajaran matematika, ketika siswa mempelajari deret ukur, maka siswa juga ditekankan tentang sabar dalam antrian, karena dalam deret ukur, nomor lima  tidak bisa mendahului nomor satu.
Riyadhoh, erat kaitannya dengan capaian akhlak pada mata pelajaran tersebut. Seperti dicontohkan sebelumnya, dalam mata pelajaran Biologi sistem pencernaan, riyadhoh yang dilakukan adalah mengikuti pola  makan Rosulullah saw. Sehingga tentunya harus diketahui bagaimana sunnah Rosulullah dalam cara makan dan pola makan. Peserta didik diminta melakukannya selama 40 hari, sebagai riyadhoh al-jism. Berdasarkan teori psikologi, sesuatu yang dilakukan selama 40 hari berturut-turut tanpa henti, maka akan menjadi kebiasaan (habbit).
Penerapan  makna pendidikan Islam yaitu tarbiyah, ta’lim, ta’dib, dan riyadhoh dalam proses pembelajaran, diharapkan akan menghasilkan output siswa yang memiliki kemampuan secara menyeluruh, dimana potensi akal, jasmani, dan ruhiyahnya dapat teroptimalkan. Wawlahu’alam bisawab.

Daftar Pustaka
(1)    Abdul Mujib, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2008).
(2)    Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Kairo: Dar al-Manar, 1373 H).
(3)    Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam; di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: Rajawali Press, 2005).
(4)    Bandingkan: Amatullah Amstrong, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia asawuf, terj. MS Nasrullah, judul asli: Sufi Terminology (al-Qamus al-Sufi): The Mystical Language of Islam, (Bandung: Mizan, 1998).

(5)    Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: YP3A, 1973).

Sari, Gadis yang Ditempa Kota dan Perjalanan

Sari lahir dan besar di tengah kerasnya Jakarta, dengan getaran kereta api sebagai melodi masa kecilnya. Namun, hidup yang penuh gejolak i...